Senin, 13 Mei 2013

Aku Bukan Monster (Short Fiction)


Kata pembunuh sepertinya terdengar sangat menyakitkan sekali untuk dicerna oleh telinga. Dan itu adalah aku, karena kelalaianku sendiri sebagai dokter yang bermaksud menolong kekasihku Anthony tetapi kenyataannya malah sebaliknya. Aku berani bersumpah, tidak pernah aku bermaksud untuk membunuh Anthony. Takkan mungkin aku bisa membunuh seorang yang sangat aku cintai.  Semua ini karena kelalaianku yang salah memberikan obat untuk Anthony ketika dia mengalami pusing kepala yang sangat hebat saat itu.
         
Sore itu Anthony datang kerumahku dengan keadaannya yang buruk, dia merasakan pusing yang luar biasa dikepalanya. Melihat keadaan anthony yang seperti itu aku merasa panik , aku pun menyuruhnya masuk kedalam rumah dan beristirahat sejenak. Kuambilkan sebuah obat dari kotak obat dan ku berikan kepada Anthony. Dia pun meminum obat pemberianku. Beberapa saat kemudian setelah meminum obat yang ku berikan, Anthony mengalami kejang-kejang yang membuatku takut. Keadaan itu membuatku semakin panik, dan aku pun bergegas membawa Anthony kedalam mobilku dan kuantarkan dia ke Rumah Sakit terdekat.

Sepanjang perjalanan aku merasa sangat gelisah, aku takut akan hal buruk yang akan terjadi pada Anthony. Sesampainya di rumah sakit aku langsung meminta bantuan kepada petugas disana untuk membawa Anthony keruangan gawat darurat. Disana aku hanya bisa menunggu kabar dari Dokter yang sedang bertugas. 1 jam sudah aku menunggu, dan ku dengar suara langkah kaki yang keluar dari ruang gawat darurat. Disana aku melihat Dokter Andre yang berjalan menuju ku,
“ma’af, aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Kata dokter Andre.
“apa yang terjadi pada Anthony?”
“Aku gagal menyelamatkan Anthony! Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya?”
         
Aku pun menceritakan hal yang sebenarnya kepada dokter Andre, dan dokter Andre pun menyimpulkan kalau tubuh Anthony tidak bisa menerima sembarang obat. Aku juga tidak pernah tau kalau Anthony ternyata seperti itu.
         
Rasanya sangat terpukul sekali mengetahui orang yang ku sayangi mati karena kelalaianku sendiri. Aku tau itu mungkin memang sudah menjadi takdirnya tetapi aku merasa betapa bodoh dan lalainya aku dalam hal ini. Dan semenjak itu pula aku bertekat bulat melepas profesiku sebagai dokter. Karena aku merasa telah gagal karena tidak bisa menyelamatkan kekasihku yang sudah lama sekali bersamaku.
         
Setelah kematian Anthony aku mengalami depresi yang sangat berat sekali, sepertinya aku tidak bisa menerima dan mema’afkan diriku sendiri karena kejadian ini. Selama berhari-hari aku mengurung diriku didalam kamar, dan bayang-bayang Anthony semakin membuatku gila dan terpukul atas kehilangannya. Aku berdiri didepan kaca dan melihat diriku sendiri, seolah aku menatap diriku bagaikan seorang monster yang telah membunuh kekasihnya sendiri. Semenjak itulah aku menganggap diriku itu seperti monster.
         
Aku mencoba untuk mencari suatu yang memungkin membuatku senang, namun kali ini aku salah menemukan cara untuk bersenang-senang. Seperti ada setan yang membisikkan sesuatu ke telingaku dan terlintas dalam fikiranku untuk mencoba memakai obat-obatan terlarang. Dan aku melakukannya. Betapa bertambah hancurnya diriku.
         
Sepertinya aku mulai kecanduan untuk menggunakan narkotika. Aku merasa bayang-bayang Anthony kembali muncul ketika aku tidak mengkonsumsi heroin yang kudapat dari seorang bandar. Rasanya melayang tanpa pernah ada beban dalam fikiranku.
         
Sudah hampir 1 bulan sahabatku Desny mencoba menghubungiku, namun tak pernah ku hiraukan. Desny pun mulai curiga kalau suatu hal telah terjadi kepadaku. Dan Desny pun ingin membuktikannya dengan datang kerumahku. Berulang kali terdengar Desny mengetuk pintu kamarku. Akhirnya dia mendobrak pintu kamarku dan memergokiku saat aku mengkonsumsi sebuah heroin.
“apa yang kau perbuat Jena?” teriaknya didepanku
“entahlah, aku merasa tenang sekarang! Hahaha”
Desny menampar ku dengar kerasnya
“sadar jen, apa yang kamu lakuin itu salah. Bukan seperti ini caranya?”
Melihat keadaanku seperti ini Desny menangis dan memelukku dengan erat. Melihat Desny menangis, tanpa sadar aku juga meneteskan air mataku. Sebenarnya hatiku juga tidak bisa menerima aku menjadi seperti ini.
“Seorang dokter menjadi pecandu heroin? Iya...?” ucapnya dengan menangis
“aku bukanlah lagi seorang dokter, dokter apa yang membunuh kekasihnya sendiri?” berontakku
“ini bukan salahmu sepenuhnya Jena, ini sudah menjadi takdir Anthony. Disana Anthony mungkin juga takkan pernah bisa damai ketika melihatmu seperti ini.”
“aku hanyalah monster yang membunuh kekasihku sendiri.” Aku berteriak dan menangis dipelukkan Desny.
         
Sebenarnya aku sadar kalau jalan yang aku pilih saat ini adalah kesalahan terbesar yang pernahku alami. Aku ingin merubah semua ini, aku ingin melepas kecanduan ku terhadap narkotika ini. Desny pun juga berusaha membantuku, dia memiliki mawarkanku untuk diajak ke panti rehabilitasi. Dan aku pun mengikuti saran yang diberikan sahabatku itu.
         
Keesokkan harinya Desny mengantarku ke tampat rehabilitasi narkoba. Aku benar-benar ingin sembuh dari ketergantunganku ini. Dan semoga ini adalah pilihan yang tepat untukku. Ketika aku masuk ke dalam sebuah ruangan yang akan menjadi ruanganku, aku melihat sesosok gadis remaja yang mamandangiku terus ketika aku datang. Kudekati dirinya dan kuajak dia berkenalan.

“siapa namamu?” tanyaku
“namaku Jessy, kakak siapa?” tanya gadis kecil itu.
“aku Jena, berapa usiamu?”
“aku 17 tahun.”

Ternyata gadis ini berusia 17 tahun, terpaut 7 tahun lebih muda dari usiaku. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan kepada gadis ini. Terutama apa masalahnya sehingga bisa masuk di panti ini. Tapi aku menanti waktu yang tepat untuk menanyakan semua ini.

Disuatu sore, senja  pun mulai menampakkan keindahannya dari langit sana. Terihat sangat indah sekali ketika ku melihatnya dari taman kecil yang ada disini. Aku menjadi teringat kembali akan sesosok Anthony, dia datang didalam lamunanku disore itu. Aku bertanya kepada diriku sendiri “masih bolehkah aku percaya akan rasa rindu kepada Anthony?” Sekejap Gadis kecil itu datang menghancurkan lamunanku disore itu.

Sepertinya ada yang ingin dia tanyakan kepadaku dan aku berusaha untuk memancingnya. Dan akhirnya dia pun berani untuk bertanya

“Kak, apa masalahmu sehingga kakak berada disini?”

Pertanyaan ini yang sebenarnya ingin aku tanyakan padanya tetapi kalah start duluan dengan gadis ini. Aku pun menceritakan semuanya padanya. Dan setelah itu aku berbalik bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Jessy menceritakan apa masalahnya kepadaku.

“ lalu bagaimana denganmu?” tanyaku
“ketika aku kelas 1 SMA, aku tak tau kenapa aku tidak pernah memiliki teman disekolah ku itu. Sepertinya
mereka semua membenciku, tapi aku tak tau apa alasannya. Seolah aku seperti di-bully disana. Tak ada 1 pun orang menjadi temanku disana. Sehingga aku mencari teman lain dan dia yang membuatku mengenal narkotika.”

Ketika kami sedang asyik bercerita, petugas yang ada disini datang mengahampiriku.

“permisi mbak Jena, ada yang datang ingin menemui mbak Jena!” kata petugas panti rehabillitas
“Siapa pak?” tanyaku
“Felix namanya mbak”
“bilang aja kalau saya belum mau menemui siapapun.”

Jessy pun menyaut pembicaraanku dengan petugas panti ini.

“janganlah begitu, selama hampir 6 bulan aku berada disini tak ada satu pun yang mengunjungiku kak.
Kakak yang masih beberapa hari aja berada disini sudah ada yang perhatian ada yang menjenguk kakak”

“tapi masalahnya...!” belum selesai aku berbicara.
“sudahlah kak temui teman kakak itu.”
“oke aku akan menemuinya tapi tidak sekarang, tolong sampaikan kepadanya pak” pintaku
“baik mbak”

Setelah petugas itu pergi, aku bertanya lagi kepada Jessy mengenai kebenaran perkataannya tadi. Dia tidak pernah dijenguk sekalipun bahkan keluarganya.
         
Keesokkan harinya, para penghuni panti rehabillitas lainnya berkumpul. Kami duduk melingkar dan saling sharing masalah kami masing-masing. Ternyata beragam cerita yang dapat dengar dari mereka. Dan saat giliranku bercerita ada pihak yang sepertinya tidak dapat menerima ceritaku. Mereka memojokkanku dan melimpahkan semua kesalahan kepadaku. Dan ini semua membuatku semakin merasa bersalah kembali dan teringat masalalu itu. Jessy datang dan membelaku disana, diajaknya pergi aku olehnya dari krumunan orang-orang ini. Jessy kembali berusaha meyakinkanku kalau aku bukan penyebab kematian Anthony.
         
Felix kembali datang ke panti rehabillitas setelah 3 hari yang lalu aku menolak kedatangannya. Alasan ku kenapa saat itu aku tak mau bertemu dengannya karena aku merasa malu karena aku telah melakukan hal yang sangat fatal. Felix adalah mantan kekasihku disaat aku masih kuliah. Dan aku putuskan untuk menemuinya sekarang. Kedatangan Felix bermaksud untuk memberikan support padaku, dan dia menanyakan kapan aku bisa keluar dari sini. Kami berbincang-bincang cukup lama disana. Disaat itulah aku melihat Jessy pergi membawa kopernya, ternyata dia sudah diperbolehkan keluar dari panti rehabillitas ini. Kedua orang tuanya mangajak Jessy bergegas untuk pulang tapi dia menyempatkan waktu untuk berpamitan denganku dan memelukku. Tetesan air mata tak dapat terbendung lagi ketika melihat Jessy akan pergi. Hari-hariku mungkin akan terasa sepi tanpa Jessy disini. Dia berjanji padaku untuk datang kembali untuk menjengukku.
         
6 bulan sudah aku jalanni hari-hari ku didalam panti ini. Dan siang ini aku sudah diperbolehkan untuk meninggalkan tempat ini. Kulihat Felix sudah berdiri didepan gerbang pintu Panti dan bersandar di pintu mobilnya sambil menatapku. Dia memang sudah berencana untuk menjemputku. Dan aku pun bersedia untuk pulang bersamanya. Sebelumnya dia mengajakku untuk makan siang disebuah Cafe. Disana dia mengatakan ingin kembali kepadaku, dan dia akan menerima semuanya yang pernah terjadi pada diriku. Aku berusaha untuk meyakinkannya kembali.
“Yakinkah kamu bisa menerima ku? Aku ini seorang monster lho!” ucapku
“monster? Tidak lagi, sudahlah Jena ini bukanlah kesalahanmu. Berhentilah menganggap dirimu itu adalah monster.” Felix meyakinkanku
Berulang kali Felix berusaha untuk meyakinkanku. Dan aku pun yakin kalau dia benar-benar serius dalam perkataannya. Aku memutuskan untuk kembali bersama Felix walaupun tak mudah untukku melupakan begitu saja Anthony. Aku yakin disana Anthony pasti tau mana yang terbaik untukku.
         
Aku kembali pada kehidupanku yang sebelumnya, menjadi seorang Jena yang ceria dan selalu bersemangat. Tapi aku tidaklah lagi kembali berprofesi sebagai dokter, namun aku menikmati profesi baruku sebagai penulis buku. Dan Felix masih setia menemani hari-hari indahku hingga saat ini . (Dinar Enggarsasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar